Tuesday, November 09, 2010

Science Field Trip Padang-Bukit Tinggi

By: Betharia Sri Fitriyanti
From: XII,Akselerasi

Sehubungan dengan selesainya ulangan kenaikan kelas untuk anak XI.akselerasi dan pergantian semester untuk anak X.akselerasi. Maka diadakanlah rehat untuk refreshing sejenak dari kesibukan semula, yang biasa kami sebut dengan Science Field Trip.
Sebagaimana kita ketahui, semester yang lalu program akselerasi juga melaksanakan Science Field Trip ke Lampung. Untuk semester ini, kami sepakat untuk melaksanakan Science Field Trip ke Padang dan Bukit Tinggi
Ini merupakan perjalanan yang lumayan panjang bagi kami yang tidak biasa pergi jauh, dan perjalanan kali ini, menurut saya, terkesan banyak menghabiskan waktu di perjalanan. Tapi, setelah merasakan kenyamanan di kota Bukit Tinggi, semua keluh, kesah, letih, dan sakit, terbayarkan.
Sebenarnya di perjalanan, kami selaku kakak kelas dari adik-adik kelas X.akselerasi, merasa senang dan terhibur karena tingkah-tingkah kocak dari para junior kami. Keakraban mulai terjalin disini, bukan sebagai senior-junior, tetapi sebagai satu Keluarga, keluarga Akselerasi.
Di perjalanan dari Padang menuju Bukit Tinggi kami berhenti di sebuah air terjun yang bernama Lembah Anai. Pemandangannya sungguh asri, airnya juga sangat jernih dan segar. Benar-benar terawat.
Masih di perjalanan menuju bukit tinggi, kami juga mungunjungi Pantai Air Manis. Ada kejadian yang agak mengherankan buat saya saat pertama kali datang kesini. Sepi. tidak seperti pantai yang biasanya, karena di pantai ini pengunjung yang ingin bermain air disini hanya rombongan kami, hanya ada beberapa rombongan kecil anak-anak pramuka yang menurut dugaan saya masih duduk di bangku SD, dan mereka sedang berbaris bukan sedang bermain air. Menurut saya itu agak mengherankan. Beberapa saat setelah kami mengganti pakaian, baru ada beberapa wisatawan yangdatang.
Bukit Tinggi. Disini rombongan kami menginap di sebuah Hotel/penginapan yang bernama Hotel Jogja. Alamat lokasinya tidak saya catat. Yang pasti letaknya lumayan strategis, karena kami hanya perlu menaiki tangga sepanjang 15-17 meter, menuju ke taman di sekitaran Jam Gadang. Di sana juga terdapat pasar tradisional yang menjual berbagai souvenir khas Padang,
Sekitar jam 05.30 tepatnya tanggal 31 Oktober 2010, saya dan rekan saya menjejakan kaki untuk jalan- jalan di sekitar penginapan. Lalu kami menuju ke Jam Gadang, tetapi sayangnya kondisi Jam Gadang yang sepertinya sedang direnovasi, membuat kami hanya bisa melihat bagian luarnya saja. Karena hari itu adalah hari minggu, ternyata di sekitar lokasi Jam Gadang diadakan senam kebugaran yang dilakukan secara massal. Tidak jauh dari Jam Gadang terdapat Monumen Bung Hatta, seperti taman bunga dengan patung bung Hatta sebagai pusatnya, di batasi dengan pagar, tetapi pagarnya di kunci. Menurut salah satu pedagang yang teman saya tanyai taman itu memang tidak pernah dibuka untuk umum, dibuka jika akan dibersihkan saja. Satu hal yang membuat saya terkesan berada di Bukit Tinggi adalah masyarakatnya yang tetap menjaga kebersihan dimana saja. Hal itu terbukti, dari saat senam di mulai, dan banyak pedagang-pedagang baru mulai berdatangan, hingga kami kembali ke Pasar yang terletak tidak jauh dari Jam Gadang sekitar pukul 14.52 siang, keadaan jalan dan taman masih bersih yang ada hanyalah bekas-bekas hujan dan beberapa daun yang berguguran. Sungguh membuat saya terkesan.
Kami juga mengunjungi ngarai Sianok yang sangatlah curam, dan Lobang Jepang. Ngarai Sianok, seperti jurang-jurang yang sangat curam, ada sungai kecil di bagian dasarnya, dan tersebar pepohonan yang membentuk hutan-hutan kecil disekelilingnya. Di Lobang Jepang, untuk mencapai lantai dasarnya kita perlu menuruni 133 anak tangga. Keadaan di dasar Lobang Jepang ini seperti baru di renovasi, karena ada bagian-bagian Lorong yang di semen. Walaupun dalam keadaan baru di renovasi, ruangan-ruangan pada sisi-sisi lorong tetap kosong. Kita hanya bisa melihat ruangan-ruangan gelap yang pastinya dulu itu bagus. Di sana ada penjara, ruang amunisi, museum, barak militer, dapur, café, dan lainnya Untuk kalian yang ingin melihat-lihat bagian dalam Lobang ini, dianjurkan untuk masuk bersama rekan-rekan kalian, dikarenakan banyaknya lorong-lorong yang akan membuat kalian bingung saat sedang asik melihat-lihat.
Kurang lebih itu saja yang bisa saya sampaikan pada laporan ini. Semoga untuk waktu mendatang kita bisa mengunjungi tempat-tempat yang lainnya, yang tidak kalah menyenangkan. Sekian.

Tuesday, November 02, 2010

Aktivitas Anak Krakatau Meningkat


REPUBLIKA.CO.ID,SERANG--Warga di sepanjang pesisir Pantai Anyer dan Carita mulai khawatir akan peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Alat seismograf di Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Selasa (2/11) merekam telah terjadi 649 aktivitas kegempaan, antara lain empat kali gempa vulkanik dalam, 79 kali gempa vulkanik dangkal, 251 kali letusan, 86 kali hembusan, dan 229 kali tremor.


Susmiatun Hayati, 45 tahun, salah seorang warga pesisir Pantai Anyar, mengaku khawatir dan takut jika malam tiba. Tidurnya pun tidak lagi sepulas sebelum tsunami menerjang Pulau Mentawai, Sumatra Barat. Suara dentuman keras akibat letusan Gunung Anak Krakatau yang membuat kaca rumahnya bergetar semakin mengusik tidurnya.

Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau memang cukup signifikan jika dibanding hari kemarin, yakni dari 151 kali menjadi 229 kali tremor atau letusan yang tidak putus-putus. Bahkan menyebabkan keluarnya lava pijar dan abu vulkanik dari kawah Gunung Krakatau.

Nelayan asal Anyer, Kabupaten Serang, Majmudin, 37 tahun, juga mengaku terganggu dengan semburan batu panas dari Gunung Anak Krakatau yang menunjukkan peningkatan dari hari ke hari. "Dalam dua pekan ini saya tidak ke laut. Karena lemparan batu cukup jauh, saya takut kena," ujar Majmudin.

Namun, Majmudin dan Susmiatun mengaku tidak bisa berbuat banyak dengan meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, apalagi harus segera memutuskan mengungsi. Karena hingga kini belum ada imbauan untuk mengungsi. Masyarakat sekitar, menurut mereka, juga belum mempersiapkan diri jika bencana terjadi. Sebab aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tergolong biasa dan rutin terjadi.

Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau, Pasauran, Cinangka, Kabupaten Serang, Bentan pun mengimbau masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Provinsi Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu letusan Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami.

Gunung Anak Krakatau memang masih berstatus waspada level II. Namun permukaan dan suhu air laut di sekitar Gunung Anak Krakatau diprediksi meningkat karena larva pijar yang ke luar dari Gunung Anak Krakatau mengalir hingga ke laut. Namun, Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau, Cinangka, Anton Triambudi, mengaku belum menghitung ada kenaikan suhu di laut tersebut.

Karena itu, masyarakat dilarang melintasi hingga radius 2 kilometer dari kawah gunung tersebut. Meski jarak semburan batu pijar hanya mencapai 100 meter. Letusan berasal dari kawah yang baru terbentuk berdiameter 25 meter yang berada di puncak gunung.

Jumlah letusan kemungkinan bisa terus meningkat, mengingat dapur magma Gunung Anak Krakatau saat ini kembali aktif. Namun, intensitas gempa dan letusan yang terjadi setiap harinya terus mengalami fluktuasi.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau yang terletak di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Jumono, mengatakan lontaran batu pijar dan lava akibat dari letusan dan semburan gunung bisa mengakibatkan seseorang tewas seketika. “Lantaran suhu batu pijar dari letusan gunung anak krakatau mencapai 600 sampai 800 derajat calcius. Ini sangat membahayakan bagi masyarakat khususnya nelayan,” katanya.

Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah, mengatakan telah melakukan koordinasi dengan Kapolda Banten dan Danrem 064 MV Banten terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Selain itu, Atut mengaku terus mengupdate informasi terbaru dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). "Statusnya waspada level II. Karena itu, pemerintah kabupaten dan kota harus mempersiapkan kewaspadaan dini dan tetap berkoodinasi dengan pos pemantau," ujar Atut.

Atut juga mengajak para tokoh agama dan masyarakat untuk berdoa agar bencana yang tidak diinginkan tersebut tidak terjadi. "Bencana alam tidak bisa diprediksi. Karena itu kita harus terus berdoa untuk keselamatan Banten," pungkasnya.

Red: Krisman Purwoko
Rep: Muhammad Fakhruddin

Tentang Merapi


Merapi adalah nama sebuah gunung berapi di provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, Indonesia yang masih sangat aktif hingga saat ini. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali.

Letaknya cukup dekat dengan Kota Yogyakarta dan masih terdapat desa-desa di lerengnya sampai ketinggian 1700 meter. Bagi masyarakat sekitar, Merapi membawa berkah material pasir, sedangkan bagi pemerintah daerah, Gunung Merapi menjadi obyek wisata bagi para wisatawan. Kini Merapi termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.

Seperti dikutip dari Wikipedia, Gunung Merapi adalah yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa.

Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu, dan sampai 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.

Letusan pada November 1994 menyebabkan hembusan awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban puluhan jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa.

Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus.

Pada 8 Juni 2006, pukul 09:30 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman.

26 Oktober 2010, Gunung Merapi memasuki tahap erupsi. Letusan diiringi keluarnya awan panas setinggi 1,5 meter yang mengarah ke Kaliadem, Kepuharjo. Letusan ini menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km.

Apa Itu Tsunami ?

Tsunami berasal dari kata :
Tsu = Pelabuhan
Nami = Gelombang
Menjadi bagian bahasa dunia, setelah gempa besar 15 Juni 1896, yang menimbulkan tsunami besar melanda kota pelabuhan Sanriku (JEPANG) dan menewaskan 22.000 orang serta merusak pantai timur Honshu sepanjang 280 km.

Tsunami adalah gelombang laut yang disebabkan oleh gempabumi , tanah longsor atau letusan gunung berapi yang terjadi di laut. Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan ratusan kilometer per jam di lautan dalam dan dapat melanda daratan dengan ketinggian gelombang mencapai 30 m atau lebih. Magnitudo Tsunami yang terjadi di Indonesia berkisar antara 1,5-4,5 skala Imamura, dengan tinggi gelombang Tsunami maksimum yang mencapai pantai berkisar antara 4 - 24 meter dan jangkauan gelombang ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai.

Berdasarkan Katalog gempa (1629 - 2002) di Indonesia pernah terjadi Tsunami sebanyak 109 kali , yakni 1 kali akibat longsoran (landslide), 9 kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat gempabumi tektonik.
Gempa yang menimbulkan tsunami sebagian besar berupa gempa yang mempunyai mekanisme fokus dengan komponen dip-slip, yang terbanyak adalah tipe thrust (Flores 1992) dan sebagian kecil tipe normal (Sumba 1977).Gempa dengan mekanisme fokus strike slip kecil sekali kemungkinan untuk menimbulkan tsunami.

Tanda-tanda akan datangnya tsunami di daerah pinggir pantai adalah :
  1. Air laut yang surut secara tiba-tiba.
  2. Bau asin yang sangat menyengat.
  3. Dari kejauhan tampak gelombang putih dan suara gemuruh yang sangat keras.

Tsunami terjadi jika :

  • Gempa besar dengan kekuatan gempa > 7.0 SR
  • Lokasi pusat gempa di laut
  • Kedalaman <>
  • Terjadi deformasi vertikal dasar laut
Potensi Tsunami di Indonesia :

Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap tsunami, terutama kepulauan yang berhadapan langsung dengan pertemuan lempeng, antara lain Barat Sumatera, Selatan Jawa, Nusa Tenggara, Utara Papua, Sulawesi dan Maluku, serta Timur Kalimantan

Tsunami di Indonesia pada umumnya adalah tsunami lokal, dimana waktu antara terjadinya gempabumi dan datangnya gelombang tsunami antara 20 s/d 30 menit

Sumber: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika